AKU PAMIT (DISAPPEAR)

Posted: Maret 1, 2011 in Lonely

Aku benar-benar merasakan jengah,  jengah pada pilihan yang ternyata tidak pernah mengharuskan atau memaksaku untuk memilih, tapi aku harus. Aku sadar aku tak lebih hebat dari apa yang ada disekitarku, hanya saja aku berusaha untuk mengembalikan semuanya dengan sisa-sisa semangat yang aku miliki saat ini. Pun ceceran ini merupakan usaha dari apa yang coba aku kumpulkan sendiri. Sendirian. Sekedar ingin dimengerti, salahkan itu? Berlebihankah?

Kadang merasa tersisihkan dan melenggang sendirian, tanpa tahu harus berjalan kemana. Bukan tanpa alasan melakukannya, tapi seolah aku tidak bisa mempertahankan atau lebih tepatnya dipertahankan. Mungkin aku memang bukan pilihan, dan terasa sangat berat untuk berada disana (walaupun aku sangat merasa ingin berada disana). Aku hanya merasa tidak kuat dengan pandangan itu, mata itu, dan pikiran yang tersimpan didalamnya.

Akhirnya, biarkanlah aku berkata, “aku pamit” sepertinya itu lebih baik (untuk semuanya). Aku menyerah, mungkin aku pengecut, mungkin juga aku tidak memiliki kekuatan sebesar itu untuk menghadapi tempat yang lebih besar dibanding dengan tempat aku berada sekarang. Hanya merasakan tidak kuat untuk beberapa waktu melihat semuanya. Terima kasih. ^.^

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s